Pengalaman Saya Terkena Doktrin Garis Keras, Jadi Benci Yang Tak Sealiran

SHARE
ilustrasi

Hendonesia.com – Beberapa hari yang lalu saya sempat chat panjang dengan IT seword. Chat yang biasanya membahas tentang tekhnis dan error, kemarin kami sempat cerita tentang doktrin yang terjadi di banyak tempat. Dari kampus-kampus, sampai masjid dan pengajian.

IT seword ini cerita tentang temannya yang sampai meninggalkan rumah, minggat, gara-gara tidak sepaham dengan orang tuanya tentang suatu hal (berkaitan agama). Kemudian dia juga cerita kalau dirinya nyaris masuk dalam lingkaran Islam garis keras yang setiap hari teriak “kafir…kafir….” Atau “takber…takber…!” dengan nada tinggi memekakkan telinga. Uniknya gejala yang dialami cukup mirip: membenci siapapun yang tidak sependapat dan meninggalkannya, sekalipun itu orang tuanya sendiri.

Mendengar cerita seperti itu, saya jadi teringat dengan pengalaman pribadi yang juga agak mirip. Setelah lulus dari pesantren, saya sempat mengajar di beberapa pesantren berbeda. Dari beberapa pesantren tesebut, ada satu pesantren yang cukup berhasil mendoktrin saya tentang suatu pemahaman dan aliran politik.

Bagaimanapun background saya adalah pesantren yang menganut kombinasi NU dan Muhammadiyah. Salaf dan modern. Saya biasa memakai jas dan dasi pada kesempatan tertentu. Tapi juga sering mengenakan sarung. Ada materi sastra Indonesia, bahasa inggris dan IPA. Tapi juga belajar bulughul marom sampai bidayatul mujtahid.

Saya terdidik di pesantren yang memiliki kebebasan dalam menyalurkan bakat dan kreatifitas. Bisa ngeband, dance, pantomim, melukis, sampai olahraga yang paling banyak diminati: sepak bola. Tapi juga tidak meninggalkan bekal dasar komunikasi seperti pidato dan debat.

Lulus dari pesantren, kemudian mengajar di pesantren beda kota dan provinsi. Banyak yang perlu saya sesuaikan, mulai dari pola pikir guru yang menurut kyai adalah pengabdian kemudian berubah jadi karyawan. Yang kemudian menjadi masalah adalah soal bid’ah dan musik.

Selama menjadi santri, saya biasa mendengar musik. Sebulan sekali selalu ada pentas musik yang digelar dalam format kompetisi. Selepas shalat selalu ada dzikir dan kalau malam jumat ada barzanji atau tahlil. Namun setelah lulus, saya masuk ke lingkungan pesantren yang melarang keras dua jenis kebiasaan tersebut. Saya bahkan ditantang oleh pimpinan “beri saya 3 saja dalil tentang membolehkan musik, maka besok kamu boleh dengarkan musik di pesantren ini.”

Waktu itu saya tak menjawab. Saya hanya remaja 17 tahun yang baru lulus pesantren. Kalaupun mau mendebat, saya masih terikat adab sebagai pimpinan dan guru. Tak baik kalau kemudian saya jawab secara terbuka. Lagi pula itu pesantrennya dia, ya terserah dia lah mau buat sistem dan pemahaman seperti apa. Toh saya tetap bisa mendengarkan musik dengan headset.

Tapi lama kelamaan, saya akhirnya terbentuk seperti mereka. Jadi tak mau lagi mendengarkan musik. Jadi jarang dzikir lagi dan seterusnya. Mau dipercaya atau tidak, doktrin 9 tahun yang lalu tersebut tetap membekas sampai sekarang. Luar biasa efeknya. Buruknya, saya juga mengalami cerita yang sama seperti IT seword dan temannya.

Saat pulang ke Madura, saya jadi tidak suka melihat orang tua yang mendengarkan musik. Saya jadi cukup sinis melihat orang tua yang berdzikir, bahkan tengah malam juga berdzikir sampai tertidur. Ada perasaan ingin menegur. Ada juga keinginan untuk minggat. Persis seperti cerita IT seword dan temannya.

Namun pada suatu kesempatan saya jadi terpikir, mengapa malah membenci orang tua sendiri? Beliau yang melahirkan saya, mereka yang mendidik sampai sebesar ini. Kalaupun saya merasa tidak cocok dengan cara mereka beribadah dan menikmati musik, kenapa saya harus membenci? Ini jelas bukan seperti yang kyai ajarkan. Islam itu damai dan asik. Tak boleh ada pemaksaan kehendak, sebab bahkan Tuhan pun tak memaksakan hambanya untuk menyembah. Perbedaan pandangan dan cara beribadah itu sudah selesai dibahas di banyak kitab. Begitu juga dengan hukum mendengar musik, pun sudah selesai dibahas di bahtsul masail. Memang ada perbedaan pandangan. Jadi seharusnya saya biasa saja menanggapinya, sebab itu memang bukan hal prinsip seperti dalam rukun iman dan rukun islam.

Pengalaman dan kesadaran inilah yang kemudian membuat saya terus belajar tentang agama Islam. Coba belajar lagi tentang cara berkomunikasi dengan Tuhan melalui dzikir-dzikir panjang. Dari sini juga saya jadi terbiasa menerima perbedaan tentang cara-cara manusia menyembah Tuhannya, tanpa perlu membenci dan merasa benar sendiri.

Dari pengalaman ini saya mencatat beberapa hal serius tentang negeri ini, tentang doktrin yang dapat mengubah seseorang menjadi berbeda sama sekali.

Lingkungan

Ada pribahasa, batu karang pun akan berlubang oleh tetesan air yang terus menerus. Begitu juga dengan hati dan pikiran kita. Kalau ada pembaca seword yang dari awal membaca artikel ini bertanya mengapa saya bisa sampai terdoktrin? Jawabannya karena lingkungannya seperti itu.

Sekali dua kali anda dipengaruhi, mungkin tak akan mengubah apa-apa. Tapi kalau setiap khutbah jumat selalu ada materi “kullu bidha dolalah wakullu dolalaatin finnar” beberapa bulan setelahnya ya jadi terkontaminasi dan terbentuk dengan sendirinya.

Itulah cara doktrin bekerja. Lingkungan membentuk secara terstruktur, sistematis dan massif tanpa perlu ngotot dan terang-terangan. Sebab saat seseorang sudah terdoktrin, maka orang tersebut akan bereaksi dengan sendirinya tanpa perlu kita dorong-dorong lagi. Apalagi kalau ada yang mendoronga atau mengajaknya, kapapanpun mereka siap.

Lembaga pendidikan

Sekolah, pesantren atau kampus menjadi lingkungan paling sempurna untuk menanamkan doktrin tertentu. Saya salah satu contoh dan saksi. Jika pimpinan sekolah atau pesantrennya menganut pemahaman tertentu yang bertentangan dengan sosial budaya di Indonesia, itu akan secara otomatis diikuti oleh santri dan wali muridnya tanpa terkecuali. Sekali lagi, tanpa terkecuali. Sebab kalau tidak sependapat, biasanya mereka akan keluar mencari sekolah atau pesantren lain.

Masalahnya, pesantren dan sekolah di negeri ini banyak dipimpin oleh orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Sehingga lihatlah kenyataannya, banyak pesantren yang menjadi basis partai politik. Santri dan jamaah jadi kekuatan untuk mendorong pimpinannya maju sebagai pejabat daerah.

Sementara kalau di kalangan kampus, selalu ada organisasi kemahasiswaan yang pada akhirnya juga adalah jenjang karir seorang politisi. Saya tak bisa merinci, tapi kalau anda sebut saja siapa nama pejabat dari setingkat menteri, DPR sampai pejabat daerah, maka kemungkinan nama tersebut 90% merupakan mahasiswa yang aktif di organsisasi.

Segala sesuatunya menjadi sangat buruk ketika santri, siswa atau mahasiswa tersebut terkena doktrin radikal. Ini seperti timba menemukan sumur. Pas. Sebab kalangan pelajar memang sangat mudah diajari sesuatu. Dan saat pelajaran tersebut melekat menjadi sebuah keyakinan paling benar, itulah yang membuat sebagian ummat muslim di Indonesia lebih sering teriak-teriak kafir dan takbir ketimbang berdzikir.

Jika saya yang hidup di lingkungan pesantren yang damai selama bertahun-tahun bisa diubah hanya dalam hitungan bulan, bagaimana dengan orang atau mahasiswa yang memang tidak pernah jadi santri? Atau bagaimana dengan santri yang memang sudah masuk ke pesantren dengan doktrin negatif? Maka jawabannya kita harus maklum kalau saat ini banyak yang menjadi Tuhan, menyalahkan dan membenci yang tidak sealiran.

Jika soal beda pilihan politik saja bisa membuat kita dikafir-kafirkan, bagaimana dengan soal pendapat soal sudut pandang agama? Pasti langsung auto equil. Yang air mineral pun dianggap miras. Jadi jangan heran kalau para teroris itu merasa sudah benar dengan jalannya, sebab mereka sudah terdoktrin.

Mungkin yang menjadi pertanyaan pembaca sekarang adalah, bagaimana melawan dan menanggulangi situasi yang sudah sedemikian terbentuk? Nah yang ini saya lanjutkan besok atau lusa, sekarang waktunya bobo.


Loading...
loading...